Freedom Writers, “Kebebasan” dalam Meraih Pendidikan

26 09 2009

freedomwriters

Review Film FREEDOM WRITERS
(Film “wajib tonton” nih… :D )

Erin Gruwell memulai karirnya sebagai guru di Woodrow Wilson High School yang berlokasi di Long Beach, Amerika. Ia mengajar Bahasa Inggris di ruang 203 yang berisikan murid-murid dari berbagai ras dan keturunan. Saat itu kekerasan antargeng yang mengatasnamakan suku bangsa atau ras sedang marak. Bahkan seringkali terjadi perkelahian antargeng yang mengakibatkan adanya korban jiwa. Yang menjadi permasalahan biasanya adalah perebutan wilayah.

Awalnya, Woodrow Wilson High School adalah sekolah dengan murid-murid berprestasi. Namun citra itu memudar sejak pemerintah mengeluarkan kebijakan sekolah integrasi, dimana satu sekolah diisi oleh siswa-siswa dari beragam keturunan. Sebagian besar dari siswa-siswa ini belum memiliki semangat untuk belajar dan perasaan membutuhkan pendidikan. Mereka sekolah karena terpaksa. Bahkan beberapa di antaranya sekolah hanya karena supaya tidak dipenjara. Akibatnya prestasi sekolah secara keseluruhan menjadi turun. Guru-guru di sekolah tersebut pun menjadi pesimis.

Akan tetapi hal ini ditanggapi lain oleh Ms. Gruwell. Ia justru tertarik untuk menjadi guru di sekolah tersebut karena ia mendukung proses integrasi. Ia peduli pada pemerataan hak pendidikan pada seluruh siswa dari ras manapun. Kemudian tertanamlah keinginan yang besar dalam dirinya untuk mengajar di sana.

Hari-hari Awal

Suasana ruang 203 di hari pertama sekolah masih belum terkendali. Siswa-siswa duduk secara berkelompok dengan ras atau gengnya masing-masing. Mereka acuh tak acuh terhadap Ms. Gruwell. Ada yang asyik corat-coret di bukunya, ada yang mengobrol dengan teman, ada pula yang tidur.

Perkelahian pun sempat terjadi. Ini membuat Ms. Gruwell kewalahan. Bahkan ia cukup terkejut melihat perkelahian antargeng yang terjadi di lapangan sekolah. Sejak saat itu ia mulai mencoba mengamati dan memahami situasi yang dialami siswa-siswanya.

Di hari-hari awal ini Ms. G berusaha bersikap tegas. Saat murid-murid mulai berani mengejeknya dan tidak menghormatinya, ia mengambil tindakan dengan memindahkan posisi tempat duduk mereka.

Diskusi tentang Geng

Salah seorang murid menggambar karikatur wajah yang menghina seorang murid lain di ruang 203. Ini membuat Ms. Gruwell prihatin. Ia pun bertanya dan mengajak diskusi murid-muridnya. Ini adalah bagian inti dimana Ms. G mencoba menyadarkan dan mengubah persepsi murid-muridnya mengenai geng.

Selama ini murid-murid Ms. G sibuk “berperang” atas nama geng atau keturunan. Mereka merasa itu adalah sebuah bentuk pembelaan atas ketidakadilan yang diterima bangsa mereka. Bahkan mati atas nama geng bagi mereka adalah sebuah kehormatan.

Ms. Gruwell mencoba mengubah pandangan murid-muridnya ini. Ia menyampaikan bahwa anggapan mereka –terhormat jika mati untuk kejayaan geng– selama ini keliru. Ia pun menceritakan kronologi terjadinya Holocaust, pembantaian terhadap kaum Yahudi, oleh geng yang luar biasa di dunia.
Murid-murid Ms. Gruwell sempat mengganggap gurunya ini tidak tahu apa-apa soal geng. Mereka merasa lebih tahu karena mereka sudah lama menjadi anggota geng. Namun, Ms. Gruwell berhasil menangkis berbagai sanggahan dari murid-muridnya dengan argumen-argumen logis yang pada akhirnya membuat mereka terdiam dan mulai menyadari kekeliruan anggapan mereka.

Upaya yang dilakukan Ms. Gruwell ini sangatlah tepat. Murid-murid Ms. G belum bisa menginginkan pendidikan karena di pikiran mereka hanyalah peperangan antargeng, membela keadilan bagi gengnya, menjatuhkan geng lain, dan perebutan wilayah. Inilah yang berusaha diubah Ms. G. Setidaknya cara yang ditempuhnya di bagian ini membuat mereka berpikir.

Permainan Garis Tengah dan Buku Harian

Di hari berikutnya Ms. Gruwell mengajak murid-muridnya bermain. Mereka dibagi menjadi dua kelompok yang berdiri di kanan dan kiri ruang kelas. Kemudian di tengah terdapat garis. Ms. G mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Jika jawabannya ya, maka murid-murid dipersilakan maju ke garis tengah tersebut.

Awalnya, pertanyaan yang diajukan bersifat umum dan tak menyinggung soal geng. Lama kelamaan pertanyaan mengarah pada pengalaman emosional mereka terkait kekerasan antargeng. Misalnya seperti pertanyaan: “Adakah teman kalian yang meninggal akibat kekerasan antargeng?”. Ternyata hampir seluruhnya maju ke garis tengah. Di sini Ms. G berusaha mengajak murid-muridnya untuk sama-sama berbagi perasaan mereka yang sedih dan kecewa akibat kekerasan antargeng. Perasaan senasib dan sama-sama dirugikan, itulah yang muncul. Setidaknya masing-masing dari mereka bisa mengetahui bahwa teman-temannya juga mengalami hal-hal yang menyakitkan akibat perang tersebut.

Setelah itu Ms. Gruwell mengeluarkan beberapa tumpuk buku harian. Ia membagikan buku itu kepada murid-muridnya. Buku itu adalah media bagi murid menuliskan apa saja yang dipikirkannya, yang dirasakannya, dan apapun yang ingin mereka tuliskan. Melalui buku inilah Ms. G mengenali lebih dalam masing-masing murid yang ada di ruang 203. Dari buku ini pula Ms. G dapat membuat rancangan tindakan yang diambilnya untuk melakukan proses pendidikan secara tepat bagi murid-muridnya.

Tur ke Museum Holocaust

Ms. Gruwell mengajak murid-muridnya tur ke sebuah museum yang didirikan untuk mengenang peristiwa Holocaust. Murid-murid tersebut seakan-akan diajak untuk ikut merasakan secara langsung kengerian dan kepedihan ribuan korban tak bersalah yang harus mati hanya karena mereka anggota dari ras tertentu. Bahkan tak sedikit di antaranya adalah anak kecil.

Setelah itu Ms. G mengajak murid-muridnya untuk makan malam bersama beberapa korban Holocaust yang masih hidup. Mereka berbagi pengalaman dengan murid-murid Ms. G. Ini membuat mereka menyadari betapa kejamnya kekerasan antar ras itu. Mereka pun sadar akan upaya Ms. G, gurunya, dalam melakukan semua ini demi mereka.

Ini adalah langkah yang tepat sebagai kelanjutan dari proses diskusi Ms. G dengan murid-muridnya di dalam kelas mengenai kekerasan antargeng dan antarketurunan. Mereka diajak untuk menyadari betapa kejamnya kekerasan tersebut secara lebih dekat dan lebih nyata. Ini bukan hanya akan membuat mereka berpikir, melainkan juga membuat mereka mengubah persepsi dan sikap mereka terkait kekerasan antargeng.

Membaca Buku

Kepala departemen yang membawahi Ms. G tak mengizinkannya untuk meminjamkan buku-buku di perustakaan untuk dibaca oleh murid-murid Ms. G. Ia beranggapan bahwa murid-murid Ms. G sama sekali tak memiliki minat membaca bahkan dikhawatirkan akan merusak buku-buku tersebut. Ia meyakini hal ini karena nilai membaca murid-murid itu sangat jelek.

Namun, Ms. G tetap optimis. Ia tetap menginginkan murid-muridnya memiliki minat membaca. Lalu ia berupaya keras mengumpulkan uang untuk membelikan seluruh muridnya buku, yaitu catatan harian Anne Frank. Anne Frank, sama seperti mereka, juga korban dari kekerasan antar ras yang terjadi di zamannya.

Murid-murid Ms. G menyukai buku tersebut karena kisahnya menyerupai kehidupan yang mereka jalani. Bahkan mereka bersepakat mengundang Miep Gies, sosok yang menampung keluarga Anne Frank saat itu, untuk datang ke Wilson untuk berbagi cerita mengenai yang dialami Anne Frank dahulu.

The Freedom Writers Diary

Ms. G berinisiatif mengajak murid-muridnya untuk menyatukan isi buku harian mereka. Ini ditanggapi secara positif oleh murid-muridnya. Dengan buku ini, setidaknya mereka dapat membaca dan mengenang kisah dari masing-masing dari mereka. Dari buku ini pula perjalanan perubahan mereka, dari yang dulunya bersikukuh mempertahankan fanatisme geng mereka menjadi sebuah keluarga yang solid, diceritakan.

Erin Gruwell, Seorang Guru yang Membuat Perubahan

Murid-murid yang terlibat kekerasan antargeng dianggap rendah dan tak berprestasi oleh guru-guru mereka sebelum Ms. Gruwell datang. Guru-guru lain beranggapan bahwa murid-murid tersebut tak bisa diharapkan untuk tertarik pada pendidikan. Mengajari mereka untuk membaca, menulis, serta ilmu-ilmu yang tingkat kesulitannya lebih tinggi adalah suatu hal yang percuma. Bahkan murid-murid seperti mereka dicap sebagai penyebab merosotnya prestasi sekolah. Untuk itu, yang terpenting bagi guru-guru saat itu hanyalah menjalankan proses pendidikan sesuai program. Membuat murid disiplin, itu saja sudah cukup. Tanpa peduli mereka mau belajar dengan sungguh-sungguh atau tidak.

Lain halnya dengan Erin Gruwell. Ia tetap berpijak pada idealisme yang diyakininya, bahwa setiap murid membutuhkan pendidikan dan mereka berhak atas itu. Bukan hanya sekadar mematuhi aturan, melainkan juga memiliki ketertarikan untuk belajar. Untuk itu ia berupaya mencari pendekatan-pendekatan yang tepat agar murid-muridnya memiliki kemauan untuk sekolah dan belajar.

Untuk pertama tentu saja ia bertindak tegas ketika keadaan kelas masih belum terkendali. Ketegasan inilah yang setidaknya menjadi awalan baginya agar dihargai terlebih dahulu sebagai seorang guru di kelas tersebut. Kedua, ia peduli dan berusaha peka untuk mengetahui apa yang dialami oleh murid-muridnya. Bukan hanya sekadar melakukan pekerjaannya sebagai pengajar Bahasa Inggris saja.

Pada poin ini proses asesmen itu dilakukan Ms. Gruwell. Ia berupaya untuk mendalami terlebih dahulu informasi dan karakter masing-masing muridnya. Dari sini ia tahu kebutuhan-kebutuhan dari mereka dan akhirnya ia bisa merancang kegiatan-kegiatan yang akan dilakukannya dalam proses belajar mengajar. Ia tidak memaksakan murid-muridnya hanya sekadar menerima aturan atau program yang telah ditentukan oleh sekolah. Namun, ia mencoba memahami terlebih dahulu murid-muridnya untuk menentukan metode pengajaran yang tepat.

Hasilnya, ia bersama murid-muridnya dapat melakukan perubahan yang sangat berarti. Murid-muridnya, yang di awal tahun ajaran berada dalam situasi perang dingin, akhirnya malah menjadi akrab seperti keluarga, tanpa memandang ras dan warna kulit. Sejak itulah mereka menjadi tertarik untuk datang ke sekolah. Mereka pun sudah memiliki keberanian untuk berharap pada masa depannya. Tidak seperti sebelumnya, mereka pesimis dan merasa bahwa hidup mereka hanya akan dipenuhi oleh perang, perang, dan perang yang mengatasnamakan kehormatan geng dan ras.

Selain itu, Ms. Gruwell pun menanamkan perasaan merdeka dalam diri murid-muridnya, yaitu merdeka untuk memilih keputusan yang benar. Mereka belajar untuk tidak takut melakukan hal-hal yang benar tanpa terbebani apapun, termasuk takut akan melawan rasnya sendiri. Ini tampak sekali pada diri salah seorang murid yang akhirnya berhasil memberikan kesaksian yang benar dan jujur saat di persidangan bahwa saudaranya sendiri yang telah melakukan pembunuhan.

Terlepas dari itu semua, hal terpenting yang harus ada di diri seorang guru adalah ketulusan dalam mengajar. Ms. Gruwell telah menunjukkannya. Ia tulus dalam mengajar. Ia benar-benar ingin mendidik murid-muridnya, bukan hanya sekadar “melakukan pekerjaan”. Ia bersungguh-sungguh untuk melakukan perubahan yang berarti. Ia pun seringkali rela melakukan pengorbanan dengan bekerja di banyak tempat untuk mengumpulkan uang yang dipakainya membeli buku-buku Catatan Harian Anne Frank. Ia selalu optimis bahwa murid-muridnya dapat melakukan hal-hal yang lebih baik. Ia terus mendukung murid-muridnya. Itulah sebabnya, mereka begitu mencintai Ms. Gruwell dan berharap ia menjadi guru mereka seterusnya. (riz)





Jangan Menyerah…

9 08 2009

Jangan Menyerah – D’Masiv

Tak ada manusia
Yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali
Segala yang telah terjadi

Kita pasti pernah
Dapatkan cobaan yang berat
Seakan hidup ini
Tak ada artinya lagi

Reff 1:
Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup ini
Melakukan yang terbaik

Tak ada manusia
Yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali
Segala yang telah terjadi

Back to: Reff 1

Reff 2:
Tuhan pasti kan menunjukkan
Kebesaran dan kuasanya
Bagi hambanya yang sabar
Dan tak kenal putus asa

Bridge:
Jangan menyerah (6x)

Back to: Reff 1 & Reff 2

Coda:
Dan tak kenal putus asa (2x)





Musisi Kondangan

9 08 2009

Apa bedanya musisi jalanan, musisi kondangan, dan musisi televisi?

Beda nasib, itu dia!

Seraut wajah minim senyum tampak serius menatap electone di hadapannya. Sepasang mata dilengkapi kaca mata mengikuti gerak-gerik jari-jari di atas alat musik itu. Kata orang, menjadi musisi kondangan bukanlah suatu pekerjaan yang bergengsi. Coba bandingkan dengan musisi yang loncat-loncat di atas panggung lalu disyuting dan disiarkan oleh stasiun televisi kenamaan di negeri ini.

Berbeda.

Aku mencoba menerka apa yang ada di pikiran bapak paruh baya pemain electone itu. Kira-kira apa yang dipikirkannya?

“Alhamdulillah ‘manggung’ lagi… Berarti dapat uang untuk anak istri…”
“Lagu dangdut! Seharusnya aku bisa memainkan yang bukan lagu dangdut…”
“Anakku takkan kubolehkan bermusik, biar dia sekolah yang benar dan jadi sarjana, jangan seperti bapaknya, musisi kawinan…”

Entah mengapa tiba-tiba aku teringat pada Abraham Maslow. Maaf, bukan orangnya, tapi teorinya yang tentang hierarki kebutuhan manusia itu. Memang aku tidak sepenuhnya setuju dengan teori itu (mungkin belum…) tapi ada benarnya juga (in my opinion)…

Tapi setuju tidak setuju bukanlah poinnya…

Yang aku ingat hanyalah stage itu, stage keenam dari hierarki kebutuhan manusia, yaitu need for aesthetic alias kebutuhan akan keindahan… Tingkatan ini berada tepat di bawah tingkatan teratas, yaitu self actualization. Aku suka membaca berulang kali kriteria-kriteria orang yang sampai pada tahap tertinggi ini. Kemudian aku penasaran, siapa saja di dunia ini yang sampai pada level itu?

Mengingat level di bawahnya adalah need for aesthetic, rasional tidak jika orang-orang yang mencapai level self actualization adalah mereka, para seniman?

Ah, kesimpulan yang terlalu cepat mungkin…

Akan tetapi, kupikir jika memang orang sampai pada level need for aesthetic saja, itu sudah hebat! Mereka melakukan sesuatu atas dasar kebutuhan akan keindahan… Bekerja, berkarya, karena keindahan… Bukan lagi untuk cari makan, cari rasa aman, cari teman, dan cari pujian atau penghargaan… Itu hanya “efek samping”.

Dan seni bisa jadi jalan… Jalan dari need for aesthetic itu…

Tapi melihat musisi kondangan tadi… Apakah benar ia telah sampai pada level itu?

Mungkin ya, mungkin tidak.

Mungkin ya, jika ia suka musik dangdut, ia suka manggung di acara kawinan, ia senang melakukan itu, dan menikmati tiap gerik jarinya di atas electone sebagai sumber terpancarnya keindahan.

Mungkin tidak, jika ia bermusik di sana hanya untuk mencari uang, jika ia benar-benar merasakan “ketiadaan prestise”, jika ia tidak menikmati musik dangdut yang ia mainkan.

Aku masih mencoba, meraba-raba, seperti apa rasanya menjadi mereka yang “berkarya untuk berkarya”, bermusik untuk musik itu sendiri… Terlepas dari belenggu “harus cari duit”, “harus diterima oleh komunitas”, “harus dapat pujian dan penghargaan”, dan seterusnya…

Hmmh…

Aku sering berpikir seperti ini. Aku juga berpikir kenapa aku berpikir seperti ini. Haha…

Melihat seorang pengumpul sampah yang dengan peluh terus menarik gerobaknya, aku bertanya, “Adilkah ini?”
Melihat anak kecil penjual koran dengan pakaian lusuh dan dekil, aku bertanya, “Adilkah ini?”
Melihat seorang pengamen bersuara merdu di pinggir jalan, memainkan lagu dengan harmonis hanya untuk mendapatkan seratus sampai lima ratus rupiah, bertanya lagi, “Adilkah ini?”
Melihat bapak tua penjual kerupuk yang belum juga laku sedari pagi, bertanya lagi, “Adilkah ini?”

Sampai aku lelah… Bertanya dalam hati.

Tapi ada suatu keyakinan yang mematahkan semua analisa dan keraguanku, yaitu bahwa Allah SWT adalah Yang Mahatahu apa-apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Ia takkan meninggalkan mereka dalam kegelapan tanpa sedikit pun cahaya. Lagipula aku tahu, di dunia manusia serba terbatas dan terikat pada takdir, namun untuk urusan akhirat SEMUA ORANG PUNYA PELUANG YANG SAMA UNTUK MENDAPATKAN SURGA! Tinggal bagaimana usahanya, itu saja…

Sama seperti kasus musisi tadi.
Bah, itu musisi jalanan, musisi kondangan, musisi televisi, musisi radio, musisi konser mewah, musisi… apa pun lah…

Selama melakukannya dengan setulus hati dan dedikasi yang penuh, maka takkan yang ada beda pada kemuliaan mereka…

Musisi jalanan, bukan tidak mungkin memiliki kehebatan yang sama dengan musisi populer…





Pilihan Itu…

9 08 2009

Lihat betapa dahsyatnya efek dari pilihan, kau akan tahu nanti…

Lagi-lagi saya katakan, hidup adalah pembelajaran. Aneh sekali, kesimpulan diletakkan di awal. Itulah saya. Setiap bicara, menulis, suka sekali menaruh kesimpulan di awal.

Beberapa hari yang lalu saya mendengar sebuah kabar. Cukup menyentuh afeksi saya. (Wuih, apa itu infeksi, eh… afeksi? Emm… Perasaan, ya perasaan…).

Mungkin diawali dari ini dulu.

Sejak setahun lalu hingga saat ini saya tergabung dalam Lembaga Pers Mahasiswa milik KBM Fakultas saya. Setahun, bukan waktu yang singkat. Banyak pelajaran berharga saya dapatkan selama “bekerja” di dalamnya. Selain mengembangkan diri, melakukan dedikasi, saya juga mendapatkan sebuah “keluarga”. Ya, memang kekeluargaan saya dan teman-teman di sana cukup erat, tertutama dengan yang seangkatan (tidak saya pungkiri ini, karena sebagian besar memang dari angkatan 2007).

Saya adalah seorang editor. Di kepengurusan sebelumnya saya seorang editor seorang. Maksudnya, “single fighter” begitu. Jadi, kalau sedang ada agenda akan terbit buletin, mading, atau bahkan majalah, saya seperti diberondong “peluru” dari segala arah… Hahaha… Ya, saya mengedit tulisan dari seluruh reporter. Alhamdulillah, di kepengurusan yang sekarang saya dibantu oleh dua teman.

Tapi bukan ini inti dari yang ingin saya sampaikan di tulisan ini.

Beruntung dari keadaan itu, tanpa saya sadari lambat laun saya mengenal karakter tulisan teman-teman. Bukan hanya itu, saya pun jadi mengenali dan mengetahui potensi mereka. Ada yang jago di puisi, ada yang hebat di urusan cerpen, ada yang setengah mati saya minta menulis tapi kerjaannya foto-foto melulu, ada yang terpercaya untuk masalah wawancara, ada yang tulisannya rapi sekali, ejaannya bagus, jadi meringankan beban saya, hehehe…, ada yang pintar desain layout, dan seterusnya. Mungkin bisa dikatakan di sini, di antara kami, saya cukup banyak tahu tentang karakter dan potensi teman-teman se-LPM ini. Efek dari “pekerjaan”, hehehehe…

Saya pantas bersyukur atas ini.

Tapi sekali lagi, bukan ini inti dari yang ingin saya sampaikan di tulisan ini.

Beberapa hari lalu saya cukup terkejut dengan sebuah kabar.
“Dia mau pindah ke Sastra…”

Bukan perasaan sedih atau senang yang pertama menghampiri saya. Saya hanya terpana. Wah, salut saya dengan salah satu teman baik saya itu. Itulah keberanian dalam menentukan pilihan.

Bukan sok tahu, tapi memang sejauh ini yang saya tahu teman baik saya itu punya bakat menulis. Ya, setidaknya punya minat dan kecintaan yang besar pada dunia tulis-menulis, terutama untuk karya-karya sastra.

Saya jadi teringat saat menyeleksi cerpen yang akan dimuat di majalah yang akan terbit sebentar lagi. Ada banyak cerpen yang masuk ke redaksi, tapi hanya bisa dipilih empat saja. Lalu, emm… ini sebenarnya rahasia sih… Di antara cerpen-cerpen yang masuk, seperti biasa teman baikku ini mengirim cerpen juga. Berbeda dengan cerpen lain yang saya baca baik-baik, tapi untuk cerpen dia, hanya dengan melihat namanya dan melakukan face validity langsung saya cap “DIMUAT”. Setelah itu baru saya perbaiki ejaan-ejaannya saja. Mungkin terkesan sangat subyektif, halo effect. Tapi kalau teman-teman menjadi saya akan tahu mengapa saya melakukan itu.

Ini hampir sampai ke poinnya…

Ketika kabar kepindahan seorang teman ini ke Sastra sampai ke telinga saya, yang muncul di kepala saya: “Ya, memang itu dunianya. Pilihan yang tepat.” Seakan-akan saya juga ingin menempatkan diri sejenak di posisinya. Ingin tahu seperti apa rasanya menemukan “dunia yang tepat” itu…

Sebenarnya pengalaman salah seorang teman ini hanya salah satu saja dari beberapa pengalaman teman-teman saya yang ketika mendengarnya saya langsung bergumam seperti itu…

Sebelumnya, beberapa orang teman baik juga pernah ada yang mendatangi saya, meminta saran pada saya saat mengambil keputusan. Saya mencoba membantunya sebisa saya. Walaupun memang tidak harus dengan saran yang baik dan tokcer, melainkan hanya dengan kalimat-kalimat suppotif. Saya senang melakukannya. Dan yang paling membuat saya senang adalah ketika mereka berhasil, berhasil dan bahagia setelah memilih keputusan yang tepat itu…

Hanya saja saya sering bertanya, pada diri sendiri dan pada Yang Maha Kuasa, kapan itu akan terjadi pada saya? Kapan momen itu datang, kegelisahan berakhir, kutemukan dunia saya yang tepat… Haruskah menanti dan menanti lagi?

Saya bahkan belum benar-benar mengenali diri sendiri, mengenali apa yang saya mau…





Dunia Tanpa Sekolah

27 06 2009

dunia

Judul buku : Dunia Tanpa Sekolah

Penulis : M. Izza Ahsin

Penerbit : Mizan

Tahun terbit : 2007 (Cetakan II)

Akhirnya, aku memutuskan untuk keluar dari sekolah formal dan menciptakan sekolahku sendiri. Aku memilih melawan arus; membebaskan diri sepenuhnya, tetapi juga mendapatkan tantangan berat dari orang-orang yang menganggap anak yang tidak ingin sekolah, tetapi ingin belajar adalah lelucon sedangkan anak yang sekolah, tetapi tidak belajar adalah biasa.

Pernah mendengar kasus seorang anak keluar dari sekolah karena melakukan pelanggaran berat? Atau karena tak punya cukup biaya untuk membayar SPP yang telah menunggak selama berbulan-bulan? Sekiranya sebagian besar dari kita akan menjawab pernah. Akan tetapi pernahkah Anda mendengar seorang anak yang atas dasar keinginannya sendiri –ia bukan anak yang berprestasi rendah, bukan anak dari keluarga tidak mampu, dan bukan anak yang nakal- memutuskan berhenti bersekolah?

Dalam buku inilah akan Anda temukan jawabannya. Penulis, yang juga merupakan si anak yang memutuskan berhenti bersekolah tersebut, masih berusia 15 tahun saat menulis buku ini. Mungkin Anda akan terheran-heran. Terlebih ketika membaca buku ini Anda akan tahu bahwa Izza adalah seorang anak yang tergolong cerdas dan berbakat. Ia adalah putra dari seorang guru, guru yang sejak lama telah mempelajari berbagai metode pembelajaran dalam upaya menciptakan suasana belajar yang efektif dan menyenangkan di sekolah.

Apa alasan ia memutuskan keluar? Ia, walaupun terkesan cukup ekstrim, menyebut sekolah sebagai “penjara” bagi kebebasannya. Ia merasa tak punya banyak kesempatan untuk mengembangkan minat dan bakatnya, yaitu menulis novel, karena terbebani oleh sekolah. Baginya, sekolah “memaksa” siswa untuk mempelajari dan mengejar ilmu-ilmu yang bisa jadi tidak seluruhnya mereka sukai, mengerjakan tugas-tugas yang tidak mereka mau, dan membaca buku-buku yang tidak mereka minati.

Untuk itu akhirnya sebuah keputusan besar, apalagi bagi anak seusianya yang baru menginjak SMP, ia pilih, yaitu berhenti bersekolah. Tantangan pertama justru ia dapatkan dari ayah dan ibu yang ia duga akan mendukungnya mengingat sang ayah juga seringkali mengkritisi sistem sekolah formal yang ada selama ini. Ditambah lagi dengan bayang-bayang akan anggapan masyarakat terhadapnya mengingat ayah Izza adalah seorang guru yang cukup disegani oleh orang-orang di sekitarnya, alias guru teladan. Bagaimana Izza menghadapi ini semua?

Buku ini menceritakan perjalanan Izza mulai dari ketika pergolakan batin dan perasaan terpenjara oleh sekolah formal itu menggelayuti dirinya hingga sampai pada masa-masa ketika ia keluar dari sekolah. Selain itu, ia pun menceritakan pengalaman-pengalamannya, meliputi dialog-dialog keseharian antara ia dengan orang tuanya, dan antara ia dengan teman-temannya.

Tulisan Izza dalam buku ini mungkin akan terkesan sangat subyektif dan terlalu terpaku pada satu perspektif saja, yaitu pikiran, perasaan, dan persepsi Izza terhadap sekolah formal. Memang ini tidak akan bisa langsung digeneralisasi untuk mengkritisi sekolah formal karena jelas ini hanyalah ungkapan dari salah satu siswa dari sekian juta siswa yang mengecap pendidikan formal di negeri ini. Tak semuanya mengalami dan merasakan yang serupa dengan Izza. Namun kemungkinan adanya kasus yang tidak jauh berbeda dengan ini, dimana anak merasa “terpenjara” oleh sekolah, juga tetap ada. (riz)





Pendidikan Seni

27 06 2009

Artikel berikut ini saya ambil dari karya tulis (bagian latar belakang) yang saya buat bersama salah seorang teman. Memang, ini masih sangat jauh dari sempuna. Namun setidaknya semoga gagasan yang tersirat dalam tulisan ini bisa dijadikan wacana bersama.

Pendidikan Seni dan Kreativitas

Pendidikan merupakan sebuah modal penting sebuah negara dalam membentuk Sumber Daya Manusia (SDM) yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa. Berbagai upaya telah dilakukan dengan inovasi-inovasi yang tujuannya memberikan peningkatan kualitas pada lulusan pendidikan Indonesia, salah satunya adalah pembaharuan yang beberapa dilakukan pada kurikulum sekolah formal.

Kualitas ini merupakan sesuatu yang kompleks, tak hanya diukur dari segi kemampuan secara kognitif saja. Apalagi kontribusi yang dapat diberikan seseorang bagi bangsa ini bukan hanya membutuhkan kepandaian melainkan juga kreativitas. Dengan kata lain siswa diharapkan bukan hanya pintar, melainkan juga kreatif. Selain itu yang tak kalah penting adalah kecerdasan akhlak atau keluhuran budi pekerti. Disadari atau tidak, semua ini dibutuhkan oleh siswa.

Namun, apakah pendidikan formal yang berlangsung di Indonesia telah menjawab kebutuhan tersebut? Setidaknya hal ini –bahwa siswa juga diharapkan menjadi kreatif– telah ada dalam tujuan pendidikan. Contohnya adalah pada salah satu prinsip yang termuat dalam Model KTSP untuk SMA dan MA yang berbunyi, “Peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Namun, pendidikan di Indonesia saat ini menggambarkan bahwa kawasan kognitif otak kiri dikembangkan secara maksimal sementara kawasan afektif yang melibatkan otak kanan hampir tak tersentuh. Ini dapat dilihat dari kurikulum sebagian besar pendidikan formal Indonesia. Alokasi waktu yang lebih besar diberikan pada mata pelajaran-mata pelajaran yang banyak melibatkan kinerja otak kiri. Padahal proses pendidikan yang ideal dikemas dengan memperhatikan berbagai aspek, baik pengetahuan, sikap maupun perilaku. Namun selama ini proses pengajaran di sekolah lebih mementingkan target pencapaian kurikulum yang didominasi oleh pelajaran-pelajaran yang melibatkan otak kiri. Hal ini mengakibatkan sedikitnya peluang bagi anak-anak untuk berpikir divergen dan nonkonvensional.

Ditambah lagi, pemikiran orang tua pada umumnya beranggapan bahwa anaknya pintar jika mereka pandai berhitung, membaca dan menulis. Sedangkan anak yang pandai dalam urusan seni, dianggap tidak intelek, bodoh, dan tidak ilmiah. Padahal aggapan ini keliru.

DePorter (2004: 38) mengemukakan, “Sesungguhnya, jika Anda termasuk kategori otak kiri dan Anda tidak melakukan upaya tertentu memasukkan beberapa aktivitas otak kanan dalam hidup Anda, ketidakseimbangan yang dihasilkan dapat mengakibatkan Anda stress dan juga kesehatan mental dan fisik yang buruk.” Dalam riset yang berbeda oleh Prof. Robert Ormstein, Dr. Robert Bloch, dan Tony Iluxan membuktikan bahwa mengembangkan aktivitas otak kiri dan kanan secara harmonis dan simultan akan menggandakan kemampuan dasar secara sinergi.

Selain itu, sistem berpikir yang merangsang otak kiri secara berlebihan akan menghasilkan anak yang pandai, tetapi kehilangan modal yang sangat berharga bagi kehidupannya di kemudian hari, yaitu kerangka berpikir yang menggunakan kata hati, merangsang daya imajinasi, kreatif, menyeluruh, dan bebas atau tanpa tekanan dan paksaan dari siapa pun.

Salah satu mata pelajaran yang sebenarnya cukup efektif untuk mengoptimalisasikan fungsi otak kanan peserta didik adalah pendidikan seni. Pendidikan seni dapat mengasah kreativitas siswa, bahkan penelitian menunjukkan bahwa seni seperti bermain musik, menggambar, bahkan seni dalam bentuk sastra dapat menurunkan stress karena menimbulkan emosi positif dan dapat berfungsi sebagai coping stress.

Selain itu, Prof. Ramesh Ganta (Kakatia University) berpendapat, “Bangsa yang menggusur pendidikan seni dari kurikulum sekolahnya akan menghasilkan generasi yang berbudaya kekerasan di masa depan, karena kehilangan kepekaan untuk membedakan nuansa baik dan nuansa buruk” (Disampaikan pada Kongres International Society for Education Through Art di Asia Pasifik tahun 1994). Sayangnya, pendidikan seni dalam sistem pendidikan kita saat ini sangatlah memprihatinkan.

Hal ini ditunjukkan antara lain, pertama, pendidikan seni dianggap lebih rendah daripada jenis pendidikan atau mata pelajaran yang lain. Akibatnya, pada beberapa sekolah, pendidikan seni dimasukkan sebagai materi kurikulum muatan lokal, dan tidak dianggap sebagai mata pelajaran yang dapat digunakan untuk mengevaluasi kemajuan peserta didik. Pendidikan seni diberikan dalam jumlah jam yang sangat terbatas (2 jam pelajaran dalam 1 minggu), padahal cakupan materinya terentang sangat luas. Jumlah durasi waktu untuk pelajaran seni tidak sebanding dengan jumlah jam yang disediakan untuk mata pelajaran lainnya. Akibatnya, pendidik seni mendapat kesulitan di dalam menentukan materi yang perlu diberikan kepada peserta didik berdasarkan jumlah jam yang disediakan. Berikut ini adalah contohnya.

Kedua, pendidikan seni seringkali diberikan hanya dengan penekanan pada aspek teori atau pada aspek pengetahuan serta mengabaikan praktik dan pengalaman berkesenian. Ketiga, Pendidikan seni belum dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang memadai, termasuk sumber rujukan dan perlengkapan atau peralatan kesenian.

Referensi

Basuki, Heru A.M. Pengembangan Kreativitas, (online), HYPERLINK http://heru.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/2012/Kreativitas.Doc

Khisbiyah, Yayah dan Atiqa Sabardila. 2004. Pendidikan Apresiasi Seni, Wacana dan Praktik untuk Toleransi Pluralisme Budaya. Surakarta: Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Pangkalan Ide. 2009. Creative Healing, Lepas dari Belitan Masalah secara Kreatif dengan Menjadi Seniman untuk Diri Sendiri. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.

Riandari, Henny. 1 Maret 2009. Model Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) SMA dan MA Berdasarkan Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi dan Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan. PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri (online). http://www.tigaserangkai.com/images/File/Seri-A-SMA/Model%20KTSP%20SMA%20Dok_1/MODEL%20KTSP%20SMA.pdf

Setiawan, Agus. Pluralisme dalam Pendidikan Seni, (online), HYPERLINK http://pr.qiandra.net.id/prprint.php?mib=beritadetail&id=25772

Santoso, Rukky A.M. 2001. Right Brain, Mengembangkan Kemampuan Otak Kanan untuk Kehidupan yang Lebih Berkualitas. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama .





Mengaitkan Rasa Sakit dengan Memorizing? Wow!

19 04 2009

Jumat (17 April 2009), acara The Master di RCTI telah mencapai tahap Grand Final. Tinggal dua kandidat yang berlaga memperebutkan gelar juara The Master Season 2 yang nantinya akan ditandingkan dengan juara dari Season 1, Joe Sandy, untuk menunjukkan siapa yang layak digelari The Next Master setelah Deddy Corbuzier dan Romy Rafael.

Seperti biasa, acara ini tak hanya diisi dengan penampilan dari para kandidat saja, melainkan juga dari Deddy dan Romy. Berhubung saya cukup tertarik dengan acara ini, saya mencoba mengikutinya sejak awal sampai edisi Grand Final Jumat lalu.

Yang menarik dan cukup berkesan bagi saya adalah penampilan Romy Rafael. Berbeda dari sebagian besar pemainannya sebelumnya di The Master –biasanya ia menghipnotis sejumlah orang kemudian memberi instruksi tertentu dengan sebuah alur cerita–, kali ini permainannya hanya melibatkan tiga orang audiens, dua dari studio, satu dari penonton yang ada di rumah.

Ini ceritanya.

Awalnya Romy menampilkan foto masa kecilnya di layar belakang panggung The Master. Kemudian ia bercerita, saat masih SD ia memiliki kakak kelas yang nakal, suka memukul dan mendorong Romy. Setiap kali Romy terjatuh karena ulah kakak kelasnya tersebut, ia berusaha mengalihkan rasa sakitnya dengan melihat barang-barang yang juga terjatuh bersamanya. Misalnya buku. Saat ia jatuh, ia melihat buku-buku yang juga jatuh. Ia melihat pada halaman berapa buku itu terbuka dan menghafal beberapa kata atau apapun yang tampak dari halaman tersebut.

“Sejak saat itulah saya mengaitkan rasa sakit dengan menghafal sesuatu…,” ujar Romy.

Saya semakin penasaran karena saya merasa pernah mengalami hal yang kurang lebih sama dengan ini, mengaitkan rasa sakit –atau mungkin lebih tepatnya pengalaman buruk– dengan menghafal sesuatu.

Ia meminta salah seorang audiens perempuan untuk naik ke atas panggung. Setelah itu ia bertanya pada yang lainnya, “Apakah ada yang juga pernah mengalami hal yang sama seperti saya…? (Punya kakak kelas yang suka memukul dan menjahili)” Serentak sebagian besar penonton mengangkat tangannya. Kemudian terpilihlah seorang audiens laki-laki untuk maju ke panggung.

picture11

Kemudian Romy menunjukkan sebuah buku, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia yang berisi ribuan kosakata. Ia memberikan kamus tersebut pada audiens perempuan yang sudah berdiri di atas panggung tadi. “Nanti saya akan meminta Anda membuka halaman-halaman buku ini ke depan wajah saya seperti ini… Jangan terlalu lambat, jangan terlalu cepat…” Ujarnya sambil mempraktikkan, membuka halaman-halaman kamus tersebut secara cepat (Apa ya istilahnya? Pokoknya bukan dibuka satu persatu, melainkan seperti ketika Anda memeriksa buku dalam waktu sekitar 2 detik dari sampul depan hingga sampul belakang).

“Sekarang, Anda pilih salah satu dari ribuan kata yang ada di dalamnya dan lingkari kata tersebut dengan spidol. Jangan beri tahu siapapun, termasuk saya…” instruksi Romy sambil membalikkan badan.

Setelah itu ia berbalik lagi dan mendekati audiens perempuan tadi. Apa instruksi selanjutnya?

“Sekarang, tampar saya!”

Si audiens perempuan tadi kebingungan.

“Tampar saya!”

Kemudian si audiens menampar Romy.

“Kurang keras!”

Diulangi lagi.

“Kurang keras!”

Sekali lagi. Plak!!

“Aau..! Sekarang cepat buka halaman-halaman kamusnya di depan wajah saya!”

Kamus itu pun dibuka halaman-halamannya (dari depan sampai belakang) sekitar 2 detik selama tiga kali. Cepat sekali. Pastinya sangat sulit bahkan mungkin hampir mustahil bagi mata kita menangkap kata yang dilingkari.

Kemudian Romy meraih sebuah kertas dan menulis kata yang ia dapatkan. Dan ternyata sama dengan yang dilingkari tadi, yaitu kata “LUPA”. Wow!!

picture2

Setelah merobek halaman yang mengandung kata “LUPA” tersebut, Romy meminta si audiens perempuan tadi memilih satu kata lagi dan melingkarinya dengan spidol, seperti sebelumnya.

Sementara itu Romy mendekati audiens laki-laki yang sedari tadi telah ada di atas panggung dan memintanya duduk di sebuah kursi. Romy mengeluarkan bandulnya dan menghipnotis orang tersebut secara perlahan.

picture3

Setelah itu, Romy memintanya membuka mata lalu si audiens perempuan diminta untuk membuka halaman-halaman kamus tadi di hadapan audiens laki-laki yang terhipnotis itu dengan cara yang persis seperti sebelumnya. Dan ternyata, kata yang ditebak oleh audiens laki-laki sama seperti yang sudah dilingkari! Wow!! Kok bisa ya?

Kemudian yang ketiga, Romy mengundang penonton di rumah untuk menelepon ke The Master. Namun, ia mencari penelepon yang merasa dan ingat pernah mengalami suatu pencapaian dalam hidupnya. Kemudian ada seorang penelepon yang mengaku sedang bahagia karena sehari sebelumnya istrinya melahirkan.

Lalu seperti sebelumnya, Romy meminta lagi si audiens perempuan memilih satu kata dalam kamus dan melingkarinya. Kemudian kamus tersebut dibuka halaman-halamannya dengan sangat cepat selama tiga kali di hadapan kamera. Saya mencoba untuk menerkanya. Saya perhatikan lekat-lekat layar TV saya. Tapi mata saya tak berhasil juga menangkap kata apa yang dilingkari.

Namun, walaupun dengan sangat ragu, penelepon tadi mencoba menebaknya. Romy meyakinkan pada penelepon tersebut untuk menyebutkan saja kata yang didapatnya. Dan ternyata kata yang ditebaknya benar, yaitu, kata “KAKI”. Lagi-lagi, WOW!!

Saya mencoba mencari tahu mengapa permainan tersebut sangat berkesan bagi saya. Hmm… Saya jadi tahu sekaligus teringat pengalaman-pengalaman saya di masa lalu. Ternyata, pengalaman-pengalaman tertentu yang kita alami, terutama yang melibatkan emosi, bisa menjadi jalan untuk melihat, memperhatikan, dan menghafalkan sesuatu yang juga terjadi bersamaan dengan pengalaman emosional tersebut.

Seperti Romy, mengaitkan rasa sakit yang dirasakannya dengan melihat, memperhatikan, mencerna, dan menghafal sesuatu, yaitu informasi-informasi yang tampak pada halaman terbuka dari buku yang juga jatuh bersamanya. Hmm…





TK-ku…

16 04 2009

Ada sebuah “perubahan besar” yang tampak di depan mataku sepulang ujian tadi.

Sebuah bangunan cukup besar menempati lahan yang telah lama kosong. Letaknya tidak jauh dari rumah saya.

Bangunan itu seperti tiba-tiba ada, seperti sulap, seperti magic, atau entah tiba-tiba turun dari langit. Seingat saya beberapa hari yang lalu belum ada…

“Wah, hebat bener nih tukang-tukang bangunannya… Satu minggu langsung nongol tuh bangunan… Udah lumayan bagus lagi… Ya, kira-kira 85% lah, tinggal dipoles dikit siap deh bikin upacara gunting pita (sok tahu mode: on). Terus ntar rangkaian bunga duka cita (ops..) ucapan selamat bertaburan di depannya…” pikir saya.

Ehem. Kemudian saya -yang emosional ini- mencoba menenangkan diri, berpikir rasional. Ah, saya kan belum tahu bangunan itu akan difungsikan untuk apa. Kalau kata bapak saya -yang kebetulan juga seorang kontraktor- sepertinya bangunan yang sedang dibangun di lahan itu adalah semacam pusat perbelanjaan.

Sebenarnya bertahun-tahun yang lalu lahan itu tak kosong. Ada sebuah bangunan yang sangat familiar bagi Rizky kecil (saya) saat itu. Kata bapak dan ibu saya, sebenarnya bangunan itu dipertahankan susah payah oleh kepala sekolah TK saya. Ya, bangunan tersebut adalah Taman Kanak-kanak saya dulu yang pada akhirnya digusur beberapa tahun tidak lama setelah saya lulus dan masuk Sekolah Dasar.

Selama bertahun-tahun, lahan itu kosong. Padahal dulu rumornya akan dibangun sebuah rumah sakit. Tapi kenyataannya…

Dan kini, bangunan baru itu muncul begitu saja di lahan itu, seperti baru jatuh dari langit. Padahal perasaan kemarin belum ada deh…

Ah, Rizky… Kamunya aja yang suka nyetir sambil ngelamun…

Hmmmh… TK-ku… Terganti dengan ini? :(

Mau berapa mall lagi sih yang akan didirikan di kota ini? Coba saya orang kaya, tanah itu saya beli. Untuk apa? Rahasia. Yang jelas bukan untuk mall atau shopping center atau apalah…

TK-ku…





Saya, Anda, dan Mimpi Kita – Romy Rafael

26 03 2009

Saya, Anda, dan Mimpi Kita
Romy Rafael

Ketika kliennya berhasil mencapai apa yang mereka inginkan, itu artinya Romy Rafael berhasil menggapai mimpinya.

Di laptopnya, Romy memetakan delapan target hidupnya untuk tahun ini. Empat untuk perkembangan karier dan bisnisnya (sudah terealisasi tiga poin), dan empat lagi untuk target pribadi: Kesehatan, keluarga, spiritual, dan pengetahuan. “Dalam sehari manusia –entah itu pengemis atau pejabat- punya satu hal yang sama: 24 jam, yang tak bisa dikurangi, tak bisa disimpan, tapi bisa dimanfaatkan.” Jika sejak bangun pagi hingga tidur lagi di waktu malam tidak ada target yang dikejar, maka Anda telah membuang waktu yang tak bisa kembali lagi.

Mengenai Tujuan Hidup

Buku Berpikir dan Berjiwa Besar karya David J Swartz –saya baca ketika hendak masuk SMA, mengilhami saya agar menjadi orang yang bisa memotivasi dan memberikan value pada orang lain. Hal itu kemudian menjadi tujuan hidup saya. Tapi bagaimana caranya? Eh, kenapa tidak pakai ‘hipnosis’ saja… itu kata yang saya temukan pertama kali pada buku selanjutnya yang saya baca: Awaken the Giant Within dan Unlimited Power, keduanya karya Anthony Robbins.

Mengenai Pilihan Hidup sebagai Hipnoterapis

Butuh keberanian besar dan menghadapi penentangan keluarga. Tapi saya ambil langkah ini karena impian saya kan membantu orang. Soal saya tidak bisa mendapatkan ilmunya di Indonesia, maka saya kejar hingga ke Amerika. Barangkali ada sedikit rasa takut akan gagal, tapi dari buku Berpikir dan Berjiwa Besar saya menyimpulkan: Berhasil atau tidaknya sesuatu hal, tergantung dari seberapa besar dedikasi orang tersebut untuk merealisasikan cita-citanya.

Mengenai Hipnoterapi sebagai Profesi

Hipnotisme adalah keterampilan, adalah alat yang saya gunakan untuk memberikan value pada orang lain. Semakin banyak value yang saya berikan, maka risikonya uang dan popularitas akan datang dengan sendirinya. Intinya, saya tidak menempatkan uang dan popularitas sebagai tujuan hidup –karena keduanya saya anggap sebagai risiko yang kita terima jika melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya. Ketika keterampilan hipnotis tersebut berkembang menjadi profesi, sesungguhnya saya melakukan hal yang saya sukai. Ini menjadi ‘seperti’ bukan sebuah pekerjaan, melainkan hoby yang menghasilkan uang.

Mengenai Mimpi

Apapun impiannya, dan walaupun semua orang di sekeliling kita bilang bahwa itu tidak mungkin, jangan dengarkan mereka. Sebab jika kita sendiri bilang bahwa itu tidak mungkin, maka impian itu menjadi tidak mungkin lagi. Impian kita mungkin sulit dicapai, tapi bukan berarti tak bisa dicapai, karena itu kerjakanlah setahap demi setahap. Jika sesuatu hal layak untuk diraih, maka layak pula untuk bekerja keras mencapainya.

Mengenai Hubungan Ideal Antarmanusia

Jadilah pendengar yang baik –bukan secara harfiah- tapi mendengarkan untuk menangkap pesan di balik apa yang orang lain bicarakan kepada kita. Kadang-kadang orang menangkap pesan dari lawan bicaranya dan kemudian menyesuaikannya dengan frame yang dia miliki sendiri. Ternyata mendengarkan itu sulit. Mulut ada satu dan telinga ada dua –jadi kita harus lebih banyak mendengarkan ketimbang bicara dan mengasumsi. Misalnya, klien saya datang maka saya tidak boleh mengasumsi ini-itu. Jika itu saya lakukan juga, sama saja seperti menaruh dunia saya ke dalam dunianya.

Mengenai ‘Jika’ Semua Orang Tunduk pada Instruksinya

Bahkan saya tidak mau satu orang pun tunduk pada saya. Tidak ada lagi dinamika. Biarkan saja ada pelacuran di jalan-jalan, biarkan saja ada orang kaya dan miskin, biarkan saja ada yang sedih dan gembira. Biarkan saja ada dinamikanya karena itulah yang menjaga keseimbangan, yin-yang. Kalau semua baik-baik saja, kita tidak akan tahu yang jahat seperti apa….

Mengenai Menggaet Wanita Bahenol dengan Menghipnotis

Hipnotis tidak bisa melakukan itu. Lagipula saya tidak butuh hipnotis untuk itu.

Mengenai Beban Memiliki Ilmu Hipnotis

Di negeri ini hipnotis bermakna negatif dan diasosiasikan dengan kejahatan –itu yang berusaha saya rubah. Di sisi lain saya juga harus terus belajar agar bisa mempertahankan kualitas dan mutu, tidak ketinggalan informasi dan ilmu, karena masalahnya sudah menyangkut nama baik, kompetensi dan reputasi. O ya, saya tidak menganggap itu sebuah beban, tapi motivasi untuk meningkatkan kemampuan secara terus-menerus.

Mengenai Romy Rafael dalam Tiga Kata

Goal, persistence, dedication. Hidup harus punya tujuan, harus tekun dalam berusaha, dan memiliki dedikasi pada apapun yang menjadi pilihan kita itu.

Mengenai Baju Berwarna Pink

Wah, saya tidak punya, semuanya hitam.

Ingin lihat video liputan saat Romy Eafael Menghipnotis 8000 orang? Klik link di bawah ini.

http://www.kompas-tv.com/content/view/253/108/

PROFIL ROMY RAFAEL

Keahlian Romy Rafael dalam menghipnotis seseorang bahkan banyak orang sekaligus memang tak diragukan lagi. Karena keahliannya itu pula laki-laki kelahiran Surabaya, 12 Juli 1977 ini  telah memperoleh penghargaan dari MURI (Museum Rekor Indonesia) karena telah meng-Hypnotis 5000 orang di waktu dan tempat yang sama

Laki-laki berpostur tubuh tinggi ini juga telah memiliki pengalaman lebih dari 10 tahun di dalam bidangnya, sebagai seorang pembicara, entertainer dan terapis. Namun siapa yang tahu bahwa keahliannya tersebut terinspirasi dari buku-buku yang dibacanya saat ia duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama kala ia tinggal di Surabaya dulu.

Dituturkan Romy, kehidupan masa kecilnya memang agak berbeda dari anak-anak lain pada umumnya, dikala teman-teman sebayanya berkumpul dan bermain, Romy kerap menyendiri. Karena kebiasaanya itu ia sering kali menjadi bahan ejekan dari teman-teman sepermainannya. “Saya waktu itu jelek banget, udah item, gendut lagi, sehingga temen-temen senang seakali mengolok-olok, dan jadilah saya seorang yang introvert,” ujar laki-laki yang memiliki wajah tampan ini.

Begitu pula saat ia mulai duduk di bangku SMP, sifatnya yang tertutup membuat ayah satu orang anak ini tak banyak memiliki teman. Beruntung dari keadaan ini, Romy akhirnya memiliki ‘teman-teman baru’ berupa buku. Dan dari buku-buku yang kerap ia baca akhirnya Romy menemukan karakter tersendiri buatnya. “Dari keadaan itulah akhirnya saya berteman dengan buku, dan saya menemukan satu buku yang judulnya berfikir berjiwa besar di perpustakaan, dan dari membaca buku itu pula saya memiliki karakter pada diri saya,” ungkap laki-laki yang memiliki segudang hobi ini.

Baru setelah  duduk di bangku SMA, Romy mulai bisa bersosialisasi dengan banyak orang dan memiliki banyak teman, hingga ia bisa menjadi wakil ketua kelas. Namun begitu kebiasaan sejak SD dan karakter yang terbentuk itu membuat ia selalu antipati dengan pelajaran-pelajaran di sekolahnya, terutama pelajaran yang selalu berkaitan dengan angka-angka,”Setiap pelajaran mate-matika saya selalu tidur,” tutur anak pertama dari tiga bersaudara ini. sambil menambahkan bahwa ia menganggap pelajaran di sekolah itu tak memiliki kontribusi terhadap tujuan.

Dari buku-buku yang ia baca juga ia tertarik dengan dunia hipnotis. Awalnya ia merasa kesulitan untuk mendapatkan sertifikasi atas keahliannya ini. untuk mendapatkan itu, ia akhirnya memutuskan untuk mendapatkan sertifikasi dan keahlian itu di Amerika Serikat. “Kenal dengan dunia hipnotis juga dari buku, dan untuk mendapatkan sertifikasi keahlian itu saya harus bohongin orang tua  agar bisa belajar ke luar negeri,” kenang Romy.

Diakui Romy, keputusannya menggeluti dunia ini memang mendapat tantangan dari keluarganya, Romy berujar bahwa pola pikir kedua orang tuanya masih sangat konvensional. “Sejak dulu kedua orang saya memang menghedaki saya untuk mengikuti langkah mereka menjadi seorang pegawai, dan sampai sekarang orang tua saya masih menganggap saya ini tak bekerja, karena dalam pikiran mereka bekerja itu berarti menjadi seorang pegawai,” papar laki-laki yang mengaku tak memiliki cita-cita ini.

Saat ini selain sebagai entertaintner, Romy juga membuka sebuah klinik Hypnotherapy yang ia beri nama “Romy Rafael Hypnotherapy” sebuah pusat terapi yang mengunakan berbagai macam Pendekatan Holistic Healing yang telah banyak membantu individu untuk mengatasi masalah mereka dan mencapai tujuan hidup mereka dengan memberikan dan mengajarkan program-program perubahan pikiran kepada mereka yang membutuhkan.

Source:

http://www.mahasiswa.com/new/index.php?comp=hobby&do=index&mome=15&param=MDg6MTA6MDg6MDM6MDg6NDY%3D

http://downloadbagus.blogspot.com/2008/12/wawancara-dengan-romy-rafael.html





Shadows.. I Love This Song

16 03 2009

Hey you got to be honest
You got to be the only one
You got to be the one

Hey you got to stay awake
You got to start to save the world
You got to be alert

*) Shadows.. Shadows..
In the world we living on
Shadows.. Shadows..
In the world we living on

Shadows .. Shadows..
We’re alone in the world we own
Shadows .. Shadows..
We’re alone in the world we own

Hey the killer of the world
The money blinded junky man
The loveless son of man
Hey nothing isn’t right
The future is in so much pain
The lovers are in vein

Back to *)

Is this place where we fly in
Is this place where we don’t win
Is this the shadows that lived in our profit
Is this the shadows that we all wanted

And our life are burned by the fire
Of our sins and tonight
I believe that we won’t win

Here in the cities
Shadows on the run
Nothing is real
Nothing can’t be done

I am the shadows
I’m the only one
Make me believe
That nothing can be done

Source: http://www.kapanlagi.com/lirik/artis/nidji/shadows