
Review Film FREEDOM WRITERS
(Film “wajib tonton” nih…
)
Erin Gruwell memulai karirnya sebagai guru di Woodrow Wilson High School yang berlokasi di Long Beach, Amerika. Ia mengajar Bahasa Inggris di ruang 203 yang berisikan murid-murid dari berbagai ras dan keturunan. Saat itu kekerasan antargeng yang mengatasnamakan suku bangsa atau ras sedang marak. Bahkan seringkali terjadi perkelahian antargeng yang mengakibatkan adanya korban jiwa. Yang menjadi permasalahan biasanya adalah perebutan wilayah.
Awalnya, Woodrow Wilson High School adalah sekolah dengan murid-murid berprestasi. Namun citra itu memudar sejak pemerintah mengeluarkan kebijakan sekolah integrasi, dimana satu sekolah diisi oleh siswa-siswa dari beragam keturunan. Sebagian besar dari siswa-siswa ini belum memiliki semangat untuk belajar dan perasaan membutuhkan pendidikan. Mereka sekolah karena terpaksa. Bahkan beberapa di antaranya sekolah hanya karena supaya tidak dipenjara. Akibatnya prestasi sekolah secara keseluruhan menjadi turun. Guru-guru di sekolah tersebut pun menjadi pesimis.
Akan tetapi hal ini ditanggapi lain oleh Ms. Gruwell. Ia justru tertarik untuk menjadi guru di sekolah tersebut karena ia mendukung proses integrasi. Ia peduli pada pemerataan hak pendidikan pada seluruh siswa dari ras manapun. Kemudian tertanamlah keinginan yang besar dalam dirinya untuk mengajar di sana.
Hari-hari Awal
Suasana ruang 203 di hari pertama sekolah masih belum terkendali. Siswa-siswa duduk secara berkelompok dengan ras atau gengnya masing-masing. Mereka acuh tak acuh terhadap Ms. Gruwell. Ada yang asyik corat-coret di bukunya, ada yang mengobrol dengan teman, ada pula yang tidur.
Perkelahian pun sempat terjadi. Ini membuat Ms. Gruwell kewalahan. Bahkan ia cukup terkejut melihat perkelahian antargeng yang terjadi di lapangan sekolah. Sejak saat itu ia mulai mencoba mengamati dan memahami situasi yang dialami siswa-siswanya.
Di hari-hari awal ini Ms. G berusaha bersikap tegas. Saat murid-murid mulai berani mengejeknya dan tidak menghormatinya, ia mengambil tindakan dengan memindahkan posisi tempat duduk mereka.
Diskusi tentang Geng
Salah seorang murid menggambar karikatur wajah yang menghina seorang murid lain di ruang 203. Ini membuat Ms. Gruwell prihatin. Ia pun bertanya dan mengajak diskusi murid-muridnya. Ini adalah bagian inti dimana Ms. G mencoba menyadarkan dan mengubah persepsi murid-muridnya mengenai geng.
Selama ini murid-murid Ms. G sibuk “berperang” atas nama geng atau keturunan. Mereka merasa itu adalah sebuah bentuk pembelaan atas ketidakadilan yang diterima bangsa mereka. Bahkan mati atas nama geng bagi mereka adalah sebuah kehormatan.
Ms. Gruwell mencoba mengubah pandangan murid-muridnya ini. Ia menyampaikan bahwa anggapan mereka –terhormat jika mati untuk kejayaan geng– selama ini keliru. Ia pun menceritakan kronologi terjadinya Holocaust, pembantaian terhadap kaum Yahudi, oleh geng yang luar biasa di dunia.
Murid-murid Ms. Gruwell sempat mengganggap gurunya ini tidak tahu apa-apa soal geng. Mereka merasa lebih tahu karena mereka sudah lama menjadi anggota geng. Namun, Ms. Gruwell berhasil menangkis berbagai sanggahan dari murid-muridnya dengan argumen-argumen logis yang pada akhirnya membuat mereka terdiam dan mulai menyadari kekeliruan anggapan mereka.
Upaya yang dilakukan Ms. Gruwell ini sangatlah tepat. Murid-murid Ms. G belum bisa menginginkan pendidikan karena di pikiran mereka hanyalah peperangan antargeng, membela keadilan bagi gengnya, menjatuhkan geng lain, dan perebutan wilayah. Inilah yang berusaha diubah Ms. G. Setidaknya cara yang ditempuhnya di bagian ini membuat mereka berpikir.
Permainan Garis Tengah dan Buku Harian
Di hari berikutnya Ms. Gruwell mengajak murid-muridnya bermain. Mereka dibagi menjadi dua kelompok yang berdiri di kanan dan kiri ruang kelas. Kemudian di tengah terdapat garis. Ms. G mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Jika jawabannya ya, maka murid-murid dipersilakan maju ke garis tengah tersebut.
Awalnya, pertanyaan yang diajukan bersifat umum dan tak menyinggung soal geng. Lama kelamaan pertanyaan mengarah pada pengalaman emosional mereka terkait kekerasan antargeng. Misalnya seperti pertanyaan: “Adakah teman kalian yang meninggal akibat kekerasan antargeng?”. Ternyata hampir seluruhnya maju ke garis tengah. Di sini Ms. G berusaha mengajak murid-muridnya untuk sama-sama berbagi perasaan mereka yang sedih dan kecewa akibat kekerasan antargeng. Perasaan senasib dan sama-sama dirugikan, itulah yang muncul. Setidaknya masing-masing dari mereka bisa mengetahui bahwa teman-temannya juga mengalami hal-hal yang menyakitkan akibat perang tersebut.
Setelah itu Ms. Gruwell mengeluarkan beberapa tumpuk buku harian. Ia membagikan buku itu kepada murid-muridnya. Buku itu adalah media bagi murid menuliskan apa saja yang dipikirkannya, yang dirasakannya, dan apapun yang ingin mereka tuliskan. Melalui buku inilah Ms. G mengenali lebih dalam masing-masing murid yang ada di ruang 203. Dari buku ini pula Ms. G dapat membuat rancangan tindakan yang diambilnya untuk melakukan proses pendidikan secara tepat bagi murid-muridnya.
Tur ke Museum Holocaust
Ms. Gruwell mengajak murid-muridnya tur ke sebuah museum yang didirikan untuk mengenang peristiwa Holocaust. Murid-murid tersebut seakan-akan diajak untuk ikut merasakan secara langsung kengerian dan kepedihan ribuan korban tak bersalah yang harus mati hanya karena mereka anggota dari ras tertentu. Bahkan tak sedikit di antaranya adalah anak kecil.
Setelah itu Ms. G mengajak murid-muridnya untuk makan malam bersama beberapa korban Holocaust yang masih hidup. Mereka berbagi pengalaman dengan murid-murid Ms. G. Ini membuat mereka menyadari betapa kejamnya kekerasan antar ras itu. Mereka pun sadar akan upaya Ms. G, gurunya, dalam melakukan semua ini demi mereka.
Ini adalah langkah yang tepat sebagai kelanjutan dari proses diskusi Ms. G dengan murid-muridnya di dalam kelas mengenai kekerasan antargeng dan antarketurunan. Mereka diajak untuk menyadari betapa kejamnya kekerasan tersebut secara lebih dekat dan lebih nyata. Ini bukan hanya akan membuat mereka berpikir, melainkan juga membuat mereka mengubah persepsi dan sikap mereka terkait kekerasan antargeng.
Membaca Buku
Kepala departemen yang membawahi Ms. G tak mengizinkannya untuk meminjamkan buku-buku di perustakaan untuk dibaca oleh murid-murid Ms. G. Ia beranggapan bahwa murid-murid Ms. G sama sekali tak memiliki minat membaca bahkan dikhawatirkan akan merusak buku-buku tersebut. Ia meyakini hal ini karena nilai membaca murid-murid itu sangat jelek.
Namun, Ms. G tetap optimis. Ia tetap menginginkan murid-muridnya memiliki minat membaca. Lalu ia berupaya keras mengumpulkan uang untuk membelikan seluruh muridnya buku, yaitu catatan harian Anne Frank. Anne Frank, sama seperti mereka, juga korban dari kekerasan antar ras yang terjadi di zamannya.
Murid-murid Ms. G menyukai buku tersebut karena kisahnya menyerupai kehidupan yang mereka jalani. Bahkan mereka bersepakat mengundang Miep Gies, sosok yang menampung keluarga Anne Frank saat itu, untuk datang ke Wilson untuk berbagi cerita mengenai yang dialami Anne Frank dahulu.
The Freedom Writers Diary
Ms. G berinisiatif mengajak murid-muridnya untuk menyatukan isi buku harian mereka. Ini ditanggapi secara positif oleh murid-muridnya. Dengan buku ini, setidaknya mereka dapat membaca dan mengenang kisah dari masing-masing dari mereka. Dari buku ini pula perjalanan perubahan mereka, dari yang dulunya bersikukuh mempertahankan fanatisme geng mereka menjadi sebuah keluarga yang solid, diceritakan.
Erin Gruwell, Seorang Guru yang Membuat Perubahan
Murid-murid yang terlibat kekerasan antargeng dianggap rendah dan tak berprestasi oleh guru-guru mereka sebelum Ms. Gruwell datang. Guru-guru lain beranggapan bahwa murid-murid tersebut tak bisa diharapkan untuk tertarik pada pendidikan. Mengajari mereka untuk membaca, menulis, serta ilmu-ilmu yang tingkat kesulitannya lebih tinggi adalah suatu hal yang percuma. Bahkan murid-murid seperti mereka dicap sebagai penyebab merosotnya prestasi sekolah. Untuk itu, yang terpenting bagi guru-guru saat itu hanyalah menjalankan proses pendidikan sesuai program. Membuat murid disiplin, itu saja sudah cukup. Tanpa peduli mereka mau belajar dengan sungguh-sungguh atau tidak.
Lain halnya dengan Erin Gruwell. Ia tetap berpijak pada idealisme yang diyakininya, bahwa setiap murid membutuhkan pendidikan dan mereka berhak atas itu. Bukan hanya sekadar mematuhi aturan, melainkan juga memiliki ketertarikan untuk belajar. Untuk itu ia berupaya mencari pendekatan-pendekatan yang tepat agar murid-muridnya memiliki kemauan untuk sekolah dan belajar.
Untuk pertama tentu saja ia bertindak tegas ketika keadaan kelas masih belum terkendali. Ketegasan inilah yang setidaknya menjadi awalan baginya agar dihargai terlebih dahulu sebagai seorang guru di kelas tersebut. Kedua, ia peduli dan berusaha peka untuk mengetahui apa yang dialami oleh murid-muridnya. Bukan hanya sekadar melakukan pekerjaannya sebagai pengajar Bahasa Inggris saja.
Pada poin ini proses asesmen itu dilakukan Ms. Gruwell. Ia berupaya untuk mendalami terlebih dahulu informasi dan karakter masing-masing muridnya. Dari sini ia tahu kebutuhan-kebutuhan dari mereka dan akhirnya ia bisa merancang kegiatan-kegiatan yang akan dilakukannya dalam proses belajar mengajar. Ia tidak memaksakan murid-muridnya hanya sekadar menerima aturan atau program yang telah ditentukan oleh sekolah. Namun, ia mencoba memahami terlebih dahulu murid-muridnya untuk menentukan metode pengajaran yang tepat.
Hasilnya, ia bersama murid-muridnya dapat melakukan perubahan yang sangat berarti. Murid-muridnya, yang di awal tahun ajaran berada dalam situasi perang dingin, akhirnya malah menjadi akrab seperti keluarga, tanpa memandang ras dan warna kulit. Sejak itulah mereka menjadi tertarik untuk datang ke sekolah. Mereka pun sudah memiliki keberanian untuk berharap pada masa depannya. Tidak seperti sebelumnya, mereka pesimis dan merasa bahwa hidup mereka hanya akan dipenuhi oleh perang, perang, dan perang yang mengatasnamakan kehormatan geng dan ras.
Selain itu, Ms. Gruwell pun menanamkan perasaan merdeka dalam diri murid-muridnya, yaitu merdeka untuk memilih keputusan yang benar. Mereka belajar untuk tidak takut melakukan hal-hal yang benar tanpa terbebani apapun, termasuk takut akan melawan rasnya sendiri. Ini tampak sekali pada diri salah seorang murid yang akhirnya berhasil memberikan kesaksian yang benar dan jujur saat di persidangan bahwa saudaranya sendiri yang telah melakukan pembunuhan.
Terlepas dari itu semua, hal terpenting yang harus ada di diri seorang guru adalah ketulusan dalam mengajar. Ms. Gruwell telah menunjukkannya. Ia tulus dalam mengajar. Ia benar-benar ingin mendidik murid-muridnya, bukan hanya sekadar “melakukan pekerjaan”. Ia bersungguh-sungguh untuk melakukan perubahan yang berarti. Ia pun seringkali rela melakukan pengorbanan dengan bekerja di banyak tempat untuk mengumpulkan uang yang dipakainya membeli buku-buku Catatan Harian Anne Frank. Ia selalu optimis bahwa murid-muridnya dapat melakukan hal-hal yang lebih baik. Ia terus mendukung murid-muridnya. Itulah sebabnya, mereka begitu mencintai Ms. Gruwell dan berharap ia menjadi guru mereka seterusnya. (riz)






Recent Comments